Neuropsychological Assessment

2010
05.31

Cabang kesehatan yang mempelajari tentang sistem syaraf dan gangguan neurologi, cabang psikologi yang mempelajari hubungan antara fungsi otak dan tingkah laku adalah neuropsikologi. Seorang ahli  neuropsikologi mempelajari sistem syaraf  yang berhubungan dengan tingkah laku menggunakan beragam alat termasuk penilaian neuro psikologi. Asesmen neuropsikologi didefinisikan sebagai evaluasi otak dan fungsi sistem syaraf yang berhubungan dengan tingkah laku.

Dalam bab ini, kita meninjau beberapa alat dan prosedur yang digunakan oleh ahli klinis dan seorang ahli neuropsikologi untuk memisahkan dan mendiagnosa gangguan neuropsikologi. Kita mulai dari pendahuluan singkat tentang hubungan otak dan tingkah laku. Materi ini dijabarkan sebagai dasar untuk memahami bagaimana pengambilan atau pelaksanaan tes, sehinggga tingkah laku bisa di evaluasi untuk membuat hipotesis tentang gangguan otak dan fungsinya.

Sistem syaraf dan tingkah laku

Sistem syaraf disusun dari beragam neurons (pembuluh sel) dan bisa dibagi kedalam sistem syaraf pusat (terdiri dari otak dan spinal kord) dan sistem syaraf periperal (terdiri dari neuron-neuron yang mengirim pesan ke dan dari tubuh yang tenang). Pemaparan tentang bagian otak yang bundar (disebut cerebrum) bisa dibagi kedalam dua bagian, atau hemispere.

Beberapa korelasi atau hubungan otak dengan tingkah laku dijabarkan dalam tabel 14-1. Setiap 2 cerebral hemispere menerima informasi sensori dari arah yang berlawanan, dari tubuh dan juga mengawasi respon motorik dari arah yang berlawanan dari tubuh. Fenomena ini disebut kontrol kolateral. Hal ini terjadi karena kontrol kolateral otak dari tubuh dan luka otak sebelah kanan yang dihasilkan di sensori atau luka motorik di tubuh sebelah kiri. Pertemuan daerah dua hemispere adalah korpus kolosum, walaupun satu hemispere  paling sering berada di sebelah kiri. Orang yang hemisperenya di sebelah kiri cenderung melakukan sesuatu dengan tangan kanan yang hemisperenya dominan seperti ini dan aktivitasnya yaitu membaca, menulis, aritmatika dab pidato. Hemispere yang tidak dominan lebih senang dengan pemahaman yang spesial dan tekstural serta apresiasi terhadap musik, normalnya secara neurologi saling melengkapi terhadap individu, satu hemispere melengkapi yang lain.

Tabel 14-1

Beberapa karakteristik otak- tingkah laku untuk menyeleksi sistem syaraf

Tempat Karakteristik
Lobus temporal Lobus-lobus ini terdiri dari daerah pendengaran sebagai proses informasi visual. Kerusakan lobus temporal bisa mempengaruhi deskriminasi suara, pengenalan dan pemahaman, penghargaan terhadap musik, pengenalan suara, dan memori pendengaran atau penglihatan.
Lobus ocipital Lobus ini terdiri dari daerah penglihatan. Kerusakan di daerah ini menyebabkan kebutaan pada semua bagian daerah penglihatan atau kekurangan mengenal obyek, penglihatan sepintas, penggabuangan penglihatan simbol-simbol kepala semuanya, disebut bayangan penglihatan.
Lobus pariental Lobus ini terdiri dari derah penerimaan untuk indra sentuh dan untuk indra posisi tubuh. Kerusakan din daerah ini mengakibatkan kekurangan indra sentuh, ketidak tahuan, dan pemahaman diri yang menyimpang.
Lobus frontal Lobus ini termasuk pengurutan informasi dan membuat rangsangan.  Konsentrasi perhatian terhadap pemikiran yang abstrak, konsep kemampuan formal.

Kerusakan syaraf dan konsep keorganan

Peneliti modern  menjelaskan Hubungan antara otak dan tubuh yang menggunakan beberapa alat dan prosedur dalam pekerjaan mereka. Alat-alat dalam pekerjaan psikologi (tes, studi kasus, dan lain-lain), investigator menggunakan perlengkapan teknologi yang canggih, percobaan termasuk rangsangan listrik atau kimia dari beberapa tempat otak manusia dan hewan. Percobaan termasuk pembedahan otak hewan, laboratorium tes dan tempat observasi dari korban taruma kepala serta otopsi normal dan abnormal pada manusia dan hewan. Melalui variasi ini, peneliti telah mempelajari banyak hal tentang fungsi neurologi patologikal.

Kerusakan neurologi, yaitu luka pada otak atau tempat lain diantara sistem syaraf tengah atau periperal. Luka itu berupa perubahan patologi misalnya diakibatkan oleh luka atau infeksi. Luka neurologi bisa secara fisik maupun kimia, dan dianggap sebagai vokal (penyumbatan salah satu tempat) atau difusi (tersebar di beberapa tempat). Karena perbedaan tempat otak mengawasi beberapa fungsi luka vokal dan difusi di tempat yang berbeda akan memanifestasi mereka sendiri dalam beragam tingkah laku. Daftar nama kamu atau yang kekurangan sensoridan motorik dipaparkan pada tabel 14-2.

Tabel 14-2

Nama-nama teknik untuk beragam jenis defisit

sensori dan motorik

Nama Deskripsi kekurangan
Acalculia Ketidakmampuan untuk menunjukkan penghitungan aritmatik
Acopia Ketidakmampuan untuk menduplikat desain geometris
Agnosia Kekurangan dalam mengenali rangsangan sensori (contihnya pendengaran agnosia yang sulit dalam rangsangan pendengaran)
Agraphia Kurang mampu dalam mengarang
Akinesia Kekurangan pergerakan motorik
Alexia Ketidakmampuan untuk membaca
Amnesia Hilang ingatan
Amusia Kekurangan kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan musik
Anomia Kekurangan asosiasi yang menemukan kata-kata untuk memberi nama barang
Anopia Kekurangan penglihatan
Anosmia Kekurangan indra penciuman
Aphasia Kekurangan dalam berkomunikasi atau tidak bisa berbicara atau kemampuan menulis
Apraxia Keterbatasan pergerakan
Ataxia Kekurangan dalam kemampuan motorik dan koordinasi otot

Mungkin kamu atau luka vokal akan bercabang secara difusi dengan perilaku pernyataan yang lain, penyumbatan luka pada salah satu daerah otak mengakibatkan banyak perbedaan perilaku. Sedangkan luka secara difusi mengakibatkan satu atau lebih fungsi tertentu yang dimanfaatkan sebagai luka vokal. Sesuatu hal yang tidak mungkin yaitu neuropsikologi kadang-kadang “bekerja ke belakang” sebagaimana mereka mencoba untuk menentukan perilaku yang nampak dimana luka neurologi itu terjadi.

Asesmen neurologi juga berperan dalam menentukan perluasan kerusakan perilaku yang terjadi atau bisa diharapkan untuk terjadi sebagai hasil dari kerusakan. Misalnya mendiagnosa informasi yang tidak hanya berguna dalam mendisain program remidiasi tapi juga dalam mengevaluasi serangkaian ancaman alat, pelatihan fisik, dan terapi yang lain.

Istilah-istilah kerusakan otak, kerusakan neurologi, dan keorganan sering digunakan pada banyak literatur psikologi. Istilah kerusakan neurologi juga termasuk karena tidak hanya meliputi kerusakan otak juga kerusakan pada spinal kord dan pada semua komponen sistem syaraf periperal. Penggunaan istilah keorganan didapat dan akhir perang dunia 1 penelitian dari neurologi Jerman Kurt Goldstein pembelajaran kerusakan otak membuat Goldstein untuk menyimpulkan bahwa faktor-faktor perbedaan yang merusak individu yang normal termasuk kehilangan kemampuan untuk berpisah, kekurangan kemampuan, dan kejujuran dalam menyelesaikan masalah ini. Menurut Goldstein (1927, 1939, 1964 a) dan kampusnya mengembangkan tes psikologi yang memberikan faktor-faktor ini dan didisain untuk membantu dalam mendiagnosis sindrom otak organik atau keorganan yang pendek. Walaupun tes Goldstein sudah dicetak, ia masih berguna dalam mengembangkan beberapa tipe tugas yang masih digunakan saat ini untuk menutupi kekurangan neurologi (gambar 14-1).

Dalam tradisi Goldstein dan masyarakatnya dua orang psikolog dari Jerman, Heinz Werner dan Alfred Strauss, menguji kelas otak dan perilaku dalam otak yang terluka, anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental (Werner dan Strauss, 1941, Strauss dan Lehtinen, 1947). Seperti pendahulunya, mereka yang telah bekerja pada kerusakan otak yang parah dimana investigasi ini dicoba untuk menggambarkan karakteristik biasa pada semua orang yang otaknya terluka termasuk anak-anak.

Gambar 14-1

Tes Goldstein Scheerer tentang abstrak berfikiran konkrit

a)    Tes pendirian merupakan tindakan pengingatan ulang. Pekerjaan yang menghasilkan model-model dari ingatan, menggunakan pendirian.

b)   Kotak tes yang menantang subyek untuk merangkai model blok yang dicetak dalam buklet. Tes utama telah digantikan oleh model pekerjaan blok pada modsel tes kecerdasan Wechster. Digunakan sebagai ukuran kemampuan non verbal yang abstrak.

c)    Tes macam-macam bentuk warna terdiri dari 12 obyek, termasuk 4 segitiga, empat lingkaran dan empat persegi (masing-masing 1 lembar terdiri dari 4 warna). Obyek tersebut diperlihatkan dalam jenis yang serampangan dan orang yang diarahkan untuk memilih berdasarkan kepentingan bersama. Setiap mereka memilih, orang tersebut yang ditanya selanjutnya untuk memilih benda dengan cara yang berbeda. Kenyamanan seseorang dalam mengganti suatu prinsip yang dipilih ke yang lain yang terkenal.

d)   Tes pemilihan obyek terdiri dari 89 obyek, yang subyeknya dikehendaki secara berkelompok. Pemikiran yang konkrit dan kelemahan orang-organ mungkin bisa diartikan jika sebuah benda, contohnya dengan warna daripada fungsi.

e)   Tes pekerjaan macam-macam warna. Beberapa gulungan sutra wol dengan bermacam-macam warna. Permasalahan disini untuk memilih bermacam-macam kumpulan benang sutra berdasarkan contoh sketsa yang ditanyakan oleh penguji. Pemimpin pekerja mereka berfikir untuk mengerti dengan baik atas konsekuensi perilaku atas pikiran yang melukai siswa, hal itu juga memimpin kepada asumsi sebelumnya tentang keorganan keseluruhan yang melemahkan siswa dibagi kedalam persamaan beberapa contoh kognitif, tingkah laku, rangsangan dan kekurangan gerak. Mengenai konsep persatuan dari perumusan yang timbul dari pekerjaan ini pada tahun 1940 sebelum gagal sampai pada tahun 1950. tetapi kemudian pencarian seperti Birch dan Diller pada tahun 1959 yang masih belum dimulai untuk bertanya batas waktu mereka pada “konsep sederhana yang terorrganisir”.

Penjelasan yang berlebihan dapat “mengganggu otak” dan “terorganisisir” oleh batas waktu yang menutupi sebagian yang tidak sama dan menolong dengan tujuan menjadikan adanya saling ketergantungan “merusak pemikiran” maksudnya pada kenyataan bentuk susunannya padahal “organisir” menunjukkan macam fungsi konsekuensi yang mungkin ada seperti pemecahan (p 195)

Faktanya, gambaran tentang organisir dan kerusakan otak tanpa persatuan yang didukung oleh jumlah observasi.

-          Seseorang yang memiliki luka yang sama pada otak mungkin menunjukkan gejala yang berbeda untuk menarik perhatian.

-          Faktor- faktor interaksi, seperti fungsi kesabaran pada kesakitan, letak dan luka difusi, penyebab luka, dan letak pengembangan, mungkin membuat suatu organ kelelahan pada individu yang muncul secara klinis tidak sama dengan yang lain.

-          Berdasarkan kesamaan yang ada pada gejala seseorang yang memiliki jumlah jenis luka yang berbeda. Selanjutnya, tipe luka yang berbeda ini mungkin ditimbulkan dari beberapa penyebab seperti trauma dengan atau tanpa hilangnya kesadaran, infeksi, kurang gizi, tumor, strok, kemandulan, keracunan dan jenis gangguan pencernaan.

-          Kondisi seperti itu tidak salah pada gangguan otak yang menghasilkan gejala-gejala yang dihasilkan oleh gangguan otak. Contohnya setiap individu yang depresi, atau kelelahan menghasilkan data pada pengujian gangguan otak yang secara karakteristik didiagnosa mengalami kelelahan pada gangguan jiwa.

-          Faktor lain daripada gangguan otak yang (seperti kejiwaan, depresi, kelelahan) mempengaruhi respon gangguan otak pada setiap orang. Beberapa jenis respon yang berpengaruh (daripada korelasi) pada gangguan otak. Contohnya, jika otak terluka anak-anak sebagai kelompok yang cenderung untuk digambarkan lebih agresif dari biasanya,  itu adalah reflek lebih pada cara seperti anak yang diperlakukan oleh orang tua, guru, dan disamakan dibandingkan pada gangguan luka.

-          Seseorang yang pada kenyataannya mengaku gangguan otak kadang-kadang membenarkan kekurangan mereka untuk menyebutkan sedikitnya beberapa fungsi yang sebenarnya berlebihan bagi yang lain, bagian yang sempurna pada otak.

Dengan penjelasan yang sederhana untuk kejiwaan sebagai latar belakang, mari kita lihat pada pengujian kejiwaan dan jenis-jenis alat yang ditaksir mungkin dilakukan untuk perlakuan seperti itu.

Pengujian Neuropsikologi

Ahli klinis melakukan evaluasi secara rutin bukan kejiwaan, meskipun mereka terlatih untuk memeriksa tanda dan gejala syaraf yang berkurang. Kejiwaan membuat perbedaan tertentu antara tanda yang nampak dan tanda yang tidak nampak. Tanda yang tampak didefinisikan sebagai indikator keterbatasan jiwa yang berkurang. Reflek abnormal adalah contoh tanda yang terlihat. Tanda yang tak nampak adalah indikator yang hanya dipengaruhi oleh kejiwaan yang lemah contohnya tanda yang tak nampak adalah 15 poin perbedaan antara verbal dan pertunjukan pada tes kecerdasan Wechsler tanda (nampak atau tidak nampak) dan gejala-gejala yang diperlihatkan pada diri mereka selama menarik perhatian separah ketika taksiran berita selama wawancara ketika mengalami beberapa kesulitan, sakit kepala yang berlangsung lama. Tanda atau gejala yang diamati dengan wawancara selama interview atau dengan penguji selama tes administrasi tanda itu identik dengan lemahnya kejiwaan yang nyata pada jumlah nilai tes.

Dalam hal ini yang mana tanda atau gejala memimpin untuk menentukan lemahnya kejiwaan, penetapan secara khusus berdasarkan ahli jiwa untuk pengujian kejiwaan atau kejiwaan untuk mengevaluasi jiwa. Hal khusus yang mengevaluasi kejiwaan adalah “untuk menggambarkan kesimpulan tentang susunan dan fungsi karakteristik otak seseorang dengan mengevaluasi tingkah laku individual dengan definisi situasi untuk merespon sebuah rangsangan.” (Benton, 1994, p.1).

Banyak alat untuk menaksirkan kejiwaan yaitu alat dengan perlengkapan yang cukup terkenal seperti tes, studi kasus dan tanya jawab. Beberapa alat seperti peralatan imajinasi, teknologi modern yang berharga yang bekerja untuk mengetahui sedikit relatif alat-alat yang lebih profesional. Tujuan kita pada jenis-jenis peralatannya yang terkenal, meski kita akan lebih ringkas menunjukkan beberapa dengan sebaik-baiknya.

Peralatan yang digunakan pada uji kejiwaan adalah alat sebagai fungsi beberapa faktor: contohnya, tujuan pengujian dan ujian yang terus-menerus. Sebenarnya, administrasi yang rutin tentang tes psikologi atau pengisian ulang tes di klinik dapat membantu memeriksa neuropsikologikal. Pada pelajaran menebak kecerdasan, perseorangan, atau kecocokan, ahli klinik harus waspada terhadap kerugian tanda-tanda yang dipakai untuk uji neuropsikologikal. Kadang-kadang pasien menunjukkan kepada ahli jiwa tentang masalah syaraf. Pada kasus seperti ini, sekelompok tes secara khusus akan dapat diberikan obat. Kelompok kecil ini akan diberikan tes kecerdasan, tes perseorangan, dan pengawasan gerak atau tes ingatan. Jika kecurigaan pada tanda-tanda syaraf ditunjukkan pada latihan-latihan, ujian ditujukan untuk selanjutnya dan evaluasi yang lebih detail.

Berdasarkan adanya tujuan umum, setiap individu mungkin ditujukan pada evaluasi kejiwaan karena secara alami menunjukkan masalah khusus, seperti masalah hilang ingatan. Tes kejiwaan ditawarkan oleh ahli syaraf yang mencoba untuk mencari lebih tentang konsekuensi konkrit dan tingkah laku yang dicurigai atau diberi petunjuk. Menurut catatan ahli syaraf, seperti contohnya kejiwaan secara tidak sengaja dapat diketahui.

Ujianku negatif tapi aku merasa aku mungkin melupakan sesuatu. Pasien ini memiliki luka di kepala kira-kira enam tahun lalu, dan dia masih mengeluhkan sakit kepala dan masalah berkurangnya ingatan untuk beberapa kejadian. Saya tidak menemukan tanda yang nampak, beberapa tanda yang tidak nampak seperti getaran tangan kanan (kemungkinan dalam kecemasan), dan contoh yang ditemukan pada hasil tes lab garis dari negatif untuk dicurigai. Silahkan periksa pasien yang membuat aku lebih tau dari pada kamu tentang sakit kepala dan keluhan yang tidak tentu menjadi organik atau fungsi yang asli. Jenis pertanyaan lain misalnya “apakah kondisi ini akut atau kronis?” “apakah individu ini akan kembali ke sekolah atau bekerja?” “apakah kemampuan yang membutuhkan remidiasi?”

Pengujian neuropsikologi akan bermacam-macam sebagai fungsi alam dari pertanyaan dari penyerahan dari pertanyaan-pertanyaan seputar fungsi atau selesai organik yang dianggap sebagai perilaku akan membutuhkan pengujian yang lebih mendalam terhadap seorang dan secara psikiater.

Isi dan sifat dan pengujian juga akan bervariasi seperti fungsi dari ketidaklengkapan neurologis penilaian yang ada. Seorang psikologi menilai penampilan orang-orang secara lekas tentang ketidakmampuan fisiknya dan psikologinya. Beberapa contoh yang bisa diketahui yaitu kekurangan penglihatan dan pendengaran, masalah konsentrasi dan perhatian, berbicara & kesulitan-kesulitan bahasa, dan seterusnya. Kelonggaran yang harus dituju misalnya kekurangan-kekurangan, dan cara yang harus ditemukan untuk melaksanakan tes yang cocok sehingga bisa memperoleh hasil yang bermanfaat. Biasanya, seorang ahli neuropsikologi akan melakukan persiapan pengujian penglihatan, pendengaran dan yang lainnya untuk memastikan kelengkapan fungsi sensori dan motorik sebelum proses tes yang lebih khusus. Kekurangan penciuman (indra penciuman) seperti gejala dari beragam masalah neurological dan non neurological yang digolongkan sebagai penyakit Alzheimers (serby et al., 1991). Penemuan terhadap kekurangan dan tes seperti yang di Universitas tes identifikasi penciuman Dennsytuania (UPSIT; Doty et all., 1984) akan menjadi rangsangan untuk meneruskan asesmen diagnosa.

Biasanya semua pengujian neuropsikologi adalah sejarah yang menarik, sebuah pengujian status mental dan pelaksanaan tes dan prosedur yang didisain untuk tidak mengkofer masalah-masalah fungsi neuropsikologi. Namun pengujian, pengetahuan ahli psikologi tentang neuroanatomi, neurokimiawi dan neuropsikologi cukup untuk menaksirkan data secara optimal. Hanya fokus pada tujuan dari tes itu dan bagaimana caranya yaitu pengetahuan bisa menentukan kapan tes itu dilaksanakan. Demikian ia akan menjadi tipikat tertentu terhadap ahli psikologi untuk psikologi test penderita strok. Secara tiba-tiba setelah strok itu terjadi. Karena kesembuhan bisa terjadi secara spontanitas dalam seminggu dan sebelum setelah strok, pengujian pasien secara langsung setelah strok akan menghasilkan gambar yang salah.

Sejarah yang menarik, kasus sejarah dan studi kasus

Ahli neuropsikologi benar-benar memperhatikan sejarah pasien bersabar dan seperti menanyakannya pasien. Ahli neuropsikologi juga mempelajari kasus-kasus yang hampir sama, yang lebih baik untuk memahami penilaian-penilaian mereka.

Tipe pengujian neuropsikologi diawali dengan pengambilan sejarah dengan hati-hati. Hal-hal menarik bagi penguji termasuk :

-  Sejarah kesehatan pasien

-  Sejarah kesehatan keluarga dekat pasien dan kerabat lainnya. Contoh pertanyaannya seperti “pernahkah kamu atau kerabatmu mengalami pusing, nyeri, pingsan, atau kejang-kejang

-  Keberadaan atau ketiadaan dari perkembangan tonggak bersejarah, khususnya proses pengambilan sejarah ketika pengujian anak-anak kecil. Daftar beberapa tonggak bersejarah ini ditunjukkan pada tabel 14-3.

-  Sejarah psikososial, termasuk tingkatan prestasi akademik dan tingkatan kecerdasan. Tingkatan adaptasi dirumah, ditempat kerja atau sekolah, peninjauan dan terhadap individu / (contoh apakah individu penderita hyposhondria?) Proses berpikir dan motivasi (apakah orang ini ingin atau bisa merespon pertanyaan-pertanyaan ini dengan akurat).

Tabel 14 – 3

Beberapa perkembangan yang penting

Waktu Perkembangan
16 minggu Tertarik, tertawa keras, senyum secara spontanitas dalam merespon orang lain antisipasi hal makan, duduk bersandar selama 10 – 15 menit
28 minggu Senyum dan bersuara pada kaca dan menepuk bayangan kaca, banyak suara vokal, duduk tegak salam beberapa saat dan kemudian duduk miring, mengambil benda padat lalu melemparnya kebelakang, menempatkan kaki ke mulut, menggenggam sesuatu dan menyalurkannya dari tangan ke tangan saat sedang berdiri, dukungan berat badan.
12 bulan Berjalan hanya dengan satu tangan, berkata-kata “mamma” dan “dada” dan mungkin 2 kata lain. Memberikan sebuah mainan dalam merespon permintaan atau bahasa tubuh. Ketika memakai baju akan bekerja sama, bermain “cilukba/sembunyi-bunyian”
18 bulan Mempunyai kosataka kira-kira 10 kata, berjalan dengan baik, jarang jatuh dan berlari dengan cepat. Melihat gambar di buku, makan sendiri walaupun makanannya berjatuhan, bisa menolong mainan atau boneka besar, bisa duduk sendiri dikursi kecil atau besar, menulis secara tiba-tiba dengan crayon / pensil
24 bulan Berjalan dan turun tangga sendirian, berlari dengan baik tidak jatuh, bisa membuat tower dari 6/7 kotak. Menggunakan kata ganti orang (“saya” dan “kamu”) dan berbicara dengan tiga kalimat mengidentifikasi gambar sederhana dengan nama dan memberinya nama. Kata-kata nya perlu dibenarkan lagi, kepanasan di waktu malam, bisa mendorong kain.
36 bulan Senang ketika naik tangga dan melompat dari dasar tangga, sepeda roda 3, bisa menjiplak lingkaran dan meniru sebuah campuran dengan krayon atau pensil memahami dan menjawab pertanyaan, makan tapi sedikit berjatuhan nasinya, mengetahui dan mengulangi beberapa sajak sederhana.
48 bulan Bisa mengeringkan dan mencuci tangan, menyikat gigi, menali sepatu, memakai baju dan tidak memakai baju. Bisa bermain dengan teman-temannya, bisa menggambar figur orang sedikitnya 2 bagiannya tubuhnya jelas.
60 bulan Mengetahui nama-nama warna, menghitung sampai 10 melompat dengan kedua kaki, bisa membuat beberapa surat, bisa menggambar dengan jelas

  • Karakter, kekerasan dan adanya banyak sejarah yang diungkapkan termasuk gangguan-gangguan penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, rasa atau keseimbangan, gangguan otot hilang, kekuatan otot dan pergerakan otot, gangguan-gangguan fungsi autonomic. Misalnya bernafas, pengeliminasian dan kontrol tubuh; gangguan dalam berbicara, gangguan-gangguan dalam berpikir dan ingatan, nyeri (khususnya sakit kepala dan nyeri wajah) dan beragam jenis gangguan-gangguan pikiran.

Sejarah yang baik sangat bagus untuk penilaian yang akurat. Contohnya pasien yang menunjukkan pengaruh yang datar, kurang tercatat dan tidak tau hari apa ini / jam berapa sekarang. Individu yang menderita neurological dari dulu (disebut dementia). Walaupun kerusakan fungsi (contoh beberapa depresi) bisa menyebabkan masalah secara langsung. Pengambilan sejarah yang baik akan menjelaskan apakah peninjauan perilaku dengan benar menyebabkan dementia atau produk yang dianggap sebagai pseudodementia membantu ketika mengevaluasi pasien. Contohnya : berapa lama pasien menderita penyakit itu, dan apakah emosi atau trauma neurologi sudah lama dideritanya? Apakah pasien ini mempunyai seseorang atau latar belakang keluarga yang depresi / gangguan pikiran yang lain? Apa faktor-faktor yang muncul untuk mempertahankan pernyataan pasien itu?

Pelaksanaan interview bisa membantu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan organik atau fungsi awal dari masalah dan apakah masalah itu terjadi (seperti menyebar atau bertambah parah) atau tidak terjadi. Data dari pewawancara latar belakang juga memberikan peninterview untuk memastikan bahwa masalah yang ada lebih berbahaya daripada kekurangan neuropsikologi.

Dengan wawancara tentang latar belakang, pengetahuan tentang penilaian latar belakang juga dilakukan dengan mencatat yang ada. Kasus yang ada merupakan sumber dari semua penilai psikologi, tapi mereka khususnya terhadap pada perbaikan neuropsikologi. Banyak kejadian-kejadian, pertanyaan yang mengacu pada tingkatan kerusakan yang dialami kerabat lagi sebelum trauma, sakit atau faktor yang lain. Dalam membuat keputusan tentang ketidaknormalan, penilai mungkin mengandalkan beragam data, dari catatan dokumen untuk video tape yang dibuat dengan kamera video keluarga.

Pelaksanaan wawancara dan latar belakang mencatat latar belakang kasus dalam bentuk data, mempublikasikan studi kasus pada orang yang menderita tipe kekurangan neuropsikologi yang sama atau mirip yang bisa menjadi sumber yang bermanfaat. Studi kasus terhadap materi bisa memberikan evaluasi untuk mengeksplor kedalamannya dan juga menyarankan penyakit tertentu atau kekurangan yang ada dan bagaimana meninjau kekuatan atau kelemahan dari waktu ke waktu. Studi kasus materi bisa mengevaluasi dengan merumuskan rencana untuk terapi.

Interview

Tersedianya berbagai macam interview yang berstruktur dan bentuk-bentuk penilaian adalah sebagai bantuan untuk proses evaluasi dan screening psikologi syaraf. Alat-alat screening psikologi syaraf menjelaskan jalan menuju bidang penelitian tambahan dengan metode-metode evaluasi yang lebih luas. Alat-alat tersebut dapat digunakan secara ekonomis dengan anggota-anggota dari populasi yang bermacam-macam yang mungkin beresiko perlemahan psikologi syaraf, seperti pasien psikiatrik, orang tua, dan pecandu alkohol. Beberapa dari ukuran-ukuran ini, seperti Kuesioner Status Mental Singkat, dilengkapi oleh penilai; yang lainnya, seperti Skala Perlemahan Psikologi syaraf , itu semua adalah berkas-berkas laporan diri.

Uji Keadaan Mini-Mental (Folstein dkk., 1975) telah dipakai lebih daripada seperempat abad sejarah sebagai klinis dan alat penelitian yang dipakai untuk memindai perlemahan kognitif. Penelitian faktor analisis menyarankan tes ini mengukur terutama konsentrasi, bahasa, orientasi, ingatan, dan perhatian (Banos & Franklin, 2003; Jones & Gallo, 2000). Juga dalam kategori singkat, ukuran berstruktur adalah 7 Menit Screen, sebuah alat yang dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi para pasien dengan karakteristik gejala dari penyakit Alzheimer (Solomon dkk., 1998). Tugas-tugas pada tes ini menyediakan orientasi, kelancaran verbal, dan berbagai aspek ingatan. Baik Uji Keadaan Mini-Mental dan 7 Menit Screen memiliki nilai dalam menetapkan individu dengan perlemahan kognitif yang tidak terdeteksi sebelumnya (Lawrence dkk., 2000). Bagaimanapun bukan juga alat screening ini yang harus digunakan untuk tujuan diagnosis.

Sebagai tambahan untuk wawancara berstruktur yang dirancang untuk screening cepat, ada pengujian status mental psikologi syaraf yang lebih komprehensif. Mari kita lihat secara singkat.

UJI STATUS MENTAL PSIKOLOGI SYARAF suatu outline untuk uji status mental umum yang ditunjukkan dalam Bab 13. Uji status mental psikologi syaraf saling melengkapi uji umum dengan memperhatikan pada pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kesadaran orang yang dinilai, keadaan emosi, bobot pikiran dan kejernihan, ingatan, persepsi sensor, tindakan, bahasa, berbicara, tulisan tangan, dan penyampaian. Uji stauts mental dilakukan untuk tujuan cepat dari evaluasi fungsi psikologi syaraf yang bisa menyelidiki lebih secara luas kedalam bidang kepentingan yang khusus. Contohnya, selama uji status mental rutin, penguji mungkin memerlukan orang yang diuji menginterprestasikan arti hanya satu atau dua peribahasa. Pada uji status mental psikologi syaraf, banyak peribahasa yang bisa ditunjukkan untuk mendapatkan gambar yang lebih luas dari kapasitas pasien untuk pemikiran abstrak.

Keseluruhan uji status mental, sama dengan aspek evaluasi lainnya (termasuk penelusuran sejarah dan pengujian), dokter klinis mengamati dan mencatat aspek-aspek dari perilaku penilai yang relevan dengan fungsi psikologi syaraf. Contohnya, dokter klinis mencatat keberadaan gerakan diluar kesengajaan (seperti gerakan wajah), kesulitan locomotion, dan masalah motor dan sensor lainnya. Contohnya dokter klinis bisa mencatat bahwa satu sudut mulut lebih lambat untuk mencibir/memonyongkan daripada satu sudut mulut lainnya saat pasien tersenyum-sebuah penemuan sugestif dari kerusakan pada syaraf kranial (wajah) ketujuh. Pengetahuan hubungan otak-perilaku berguna di semua fase evaluasi, termasuk ujian fisik.
Pengujian Fisik

Kebanyakan ahli psikologi syaraf menunjukkan beberapa jenis uji fisik pada para pasien, tapi tingkat ujian ini berbeda sangat seperti fungsi dari ahli, kompetensi, dan percaya diri dari penguji. Beberapa ahli psikologi syaraf telah melakukan latihan ektensif dalam melakukan uji fisik dibawah pengawasan ahli syaraf dalam pengajaran rumah sakit. Ahli psikologi demikian merasa percaya diri dalam melakukan banyak prosedur non-invasif yang sama (prosedur yang tidak melibatkan gangguan apapun pada tubuh orang yang dinilai) yang mana ahli syaraf melakukan sebagai bagian dari uji syaraf mereka. Dalam bagian diskusi berikut, kami mendaftarkan beberapa prosedur non-invasif. Kami melanjutkan diskusi ini dengan surat keberatan yang mana ini adalah dokter dan bukan ahli psikologi syaraf yang selalu pemisah akhir dari pertanyaan medis.

Sebagai tambahan untuk membuat pengamatan tentang penampilan orang yang diuji, penguji mungkin juga memeriksa secara fisik batok kepala dan tengkorak untuk depresi atau pelebaran yang tidak biasa apapun. Otot-otot bisa diperiksa untuk sifatnya (lunak? Kaku?), kuat (Lemah atau lelah?), dan ukuran yang relatif pada otot-otot lainnya. Dengan memperhatikan pada poin terakhir, penilai mungkin mendapati, contohnya, bahwa bisep kanan pasien lebih besar daripada bisep kirinya. Penemuan demikian bisa mengindikasi penyakit yang berhubungan dengan otot pada lengan sebelah kiri. Tapi hal itu bisa juga reflek fakta bahwa pasien telah bekerja sebagai seorang pembuat sepatu selama 40 tahun yang lalu-suatu pekerjaan dimana dia harus secara terus menerus memalu paku, kemudian membentuk otot di lengan kanannya. Penunjukkan kasus pasien menegaskan pentingnya penempatan penemuan fisik dalam konteks sejarah, pentingnya penelusuran sejarah yang teliti tidak bisa terlalu keras menekan.

Sebagai tambahan pada ujian fisik pada tengkorak dan yang berhubungan dengan otot, reflek-reflek sederhana bisa diuji. Reflek adalah respon motor yang tidak disengaja sampai merangsang. Banyak reflek memiliki nilai perjuangan bagi para bayi tapi kemudian hilang seiring dengan bertambahnya umur bayi. Satu reflek demikian adalah reflek menguyah. Mengusap lidah atau bibir akan mendatangkan perilaku mengunyah pada bayi normal; bagaimanapun, menguyah yang dilakukan pada anak yang lebih tua atau dewasa menunjukkan kemunduran syaraf. Sebagai tambahan untuk pengujian bagi keberadaan atau tidak adanya berbagai reflek, penguji bisa menguji kordinasi otot dengan menggunakan ukuran seperti yang tercantum dalam Tabel 14-4.

Aspek uji fisik dari ujian psikologi syaraf dirancang untuk menilai tidak hanya fungsi otak tapi aspek fungsi dari urat syaraf, otot, dan organ lainnya dan sistem juga. Beberapa prosedur yang biasanya menjelaskan kecukupan dan fungsi dari beberapa 12 urat syaraf yang berhubungan dengan tengkorak diringkas dalam Tabel 14-5. Prosedur evaluasi tambahan dan pengukuran ditunjukkan dalam sisa bab ini sebagaimana kita meninjau beberapa alat yang lebih dikhususkan dari penilaian psikologi syaraf.

Tabel 14-5

Tes-tes sampel yang digunakan oleh ahli Psikologi syaraf untuk Menilai Kelengkapan dari beberapa 12 syaraf tengkorak

Syaraf tengkorak I syaraf olfactory

Tes: Penutupan satu lubang hidung dengan jari, penguji menempatkan beberapa zat odoriterious dibawah luang yang diuji dan menanyakan apakah bisa mencium. Para subyek yang merasakannya kemudian ditanya untuk mengidentifikasinya. Kegagalan untuk merasakan bau saat seseorang ditunjukkan bisa menunjukkan luka syaraf olfactory, tumor otak, atau kondisi medis lainnya. Tentu saja, kegagalan mungkin karena faktor-faktor lain, seperti kecenderungan berlawanan pada bagian dari pasien atau penyakit antar hidung, dan faktor-faktor demikian harus dijelaskan.

Syaraf Tengkorak II (syaratf Optic)

Tes: Penilaian dari keutuhan tengkorak kedua adalah prosedur yang sangat rumit, karena ini adalah syaraf sensor dengan fungsi-fungsi yang dihubungkan dengan keakutan visual dan penglihatan sebelah. Kartu mata Snellen adalah salah satu dari alat yang digunakan oleh dokter dalam menilai fungsi syaraf optik. Jika subyek pada jarak 20 kaki dari kartu mampu membaca angka atau huruf kecil dalam garis yang diberi nama “20.” Kemudian subyek dikatakan memiliki penglihatan 20/20 pada matanya yang dites. Ini hanya standar. Meskipun banyak orang bisa melihat hanya cetakan yang lebih besar pada angka-angka yang lebih tinggi pada kartu (yaitu, orang yang membaca huruf pada garis “40’ dari kartu akan dikatakan memiliki jarak penglihatan 20/40), beberapa orang memiliki penglihatan lebih baik daripada 20/20. Individu yang bisa membaca garis yang bernama “15” pada kartu mata Snellen akan dikatakan memiliki penglihatan 20/15.

Syaraf tengkorak V (syaraf trigeminal)

Tes: Syaraf trigeminal menyediakan informasi sensor dari wajah, dan mensuplai informasi motor ke dan dari otot-otot yang terkait dengan menguyah. Informasi menyangkut fungsi dari syaraf ini diperiksa dengan menggunakan tes untuk nyeri wajah (pinpricks dibuat oleh dokter), sensitifitas wajah pada suhu yang berbeda, dan sensasi lainnya. Bagian lain dari pemeriksaan memerlukan subyek mengepit rahangnya. Dokter kemudian akan merasakan dan memeriksa otot wajah untuk kelemahan dan ketidak normalan lainnya.

Syaraf tengkorak VIII (syaraf acoustic)

Tes: Syaraf akustik memiliki fungsi yang berhubungan dengan indera pendengaran dan indera keseimbangan. Pendengaran secara formal dinilai dengan audiometer. Yang lebih sering, penilaian rutin dari pendengaran menyangkut pemakaian sebuah “jam dollar.” Disediakan ruan pemeriksaan yang tenang. Individu dengan pendengaran normal harusnya mampu mendengar bunyi detikan jam dollar dengan jarak kira-kira 40 inchi dari masing-masing telinga (30 inchi jika ruang tidak snagat tenang). Tes cepat lainnya pada pendengaran terkait dengan penempatan getaran garpu tala pada berbagai macam bagian tengkorak. Individu yang mengeluh pening, vertigo, gangguan keseimbangan, dan sebagainya mungkin memiliki sistem vestibular mereka yang diperiksa dengan menggunakan tes yang khusus.
Tes Neuropsikologi

Berbagai jenis tes digunakan oleh ahli psikologi syaraf sama dengan ahli lainnya yang dibebankan dengan penemuan jawaban pada pertanyaan yang mengarah pada hubungan dengan ilmu psikologi syaraf. Para peneliti mungkin mempergunakan tes psikologi syaraf untuk mengukur perubahan dalam status mental atau variabel yang lain sebagai hasil dari penyelenggaraan pengobatan atau permulaan dari suatu penyakit atau gangguan. Pengevaluasi forensik mungkin mempergunakan tes untuk memperoleh wawasan pada efek dari faktor-faktor psikologi syaraf pada permasalahan seperti tanggung jawab kriminal atau kompetensi di pengadilan.

Berikut ini, kami hanya menunjukkan sampel dari banyak jenis tes yang digunakan dalam aplikasi psikologi syaraf.

Tes Kemampuan Intelektual Umum(erik) Tes kemampuan intelektual, khususnya tes Wechsler, menempati posisi yang utama diantara alat diagnosa yang tersedia bagi para ahli psikologi syaraf. Sifat dasar dari tugas-tugas yang bervariasi pada skala Wechsler dan berbagai macam respon yang diminta membuat tes-tes ini berpotensi menjadi alat-alat yang sangat berguna bagi screening psikologi syaraf. Contohnya, suatu petunjuk atas keberadaan dari kekurangan mungkin dijelaskan dengan kesulitan dalam berkonsentrasi selama salah satu dari subtes. Karena pola tertentu dari respon tes menunjukkan kekurangan tertentu, penguji melihat melebihi prestasi/performa pada tes-tes individu pada suatu studi dari pola skor tes, suatu proses mengistilahkan analisa pola. Contohnya, performa yang sangat buruk pada Desain Balok dan performa sub tes lainnya bisa diceritakan dalam catatan yang memuat skor-skor yang secara relatif tinggi di semua subtes verbal. Sebagai kombinasi dengan pola yang diketahui dari data lainnya, performa Desain Balok bisa menunjukkan kerusakan pada belahan sebelah kanan.

Sejumlah peneliti bermaksud mengembangkan suatu tanda definitif atas kerusakan otak yang telah menemukan berbagai rasio dan hasil bagi berdasarkan pada pola-pola dari skor subtes. David Wechsler sendiri memilih satu dari pola tersebut, disebut hasil bagi kemrosatan atau DQ (juga mengarah oleh beberapa dari mereka sebagai indek kemrosotan). Bagaimanapun, bukan DQ milik Wechsler juga bukan indek berbasis WAIS lainnya telah menunjukkan kepuasan yang cukup untuk dipertimbangkan ukuran yang berdiri sendiri atas perlemahan psikologi syaraf.

Kita telah mencatat kebutuhan untuk melakukan tes-tes yang distandarkan dalam kesesuaian yang ketat dengan perintah dalam manual tes. Tapi karena kemampuan dibatasi dari peserta tes, seperti tes “dengan memakain buku” administrasi tidak selalu mungkin atau diinginkan jika anggota tes dari populasi yang lemah secara psikologi syaraf. Karena berbagai masalah atau berpotensi masalah (seperti rentang perhatian yang diperpendek dari beberapa individu yang lemah secara psikologi syaraf), penguji yang berpengalaman mungkin perlu untuk mengubah administrasi tes untuk mengakomodasi peserta tes tapi secara klinis menghasilkan informasi yang berguna. Penguji mengambil skala Wechsler bisa menyimpang dari perintah yang sudah ditunjuk dari pelaksanan tes saat pengambilan tes pada individu yang mengalami kelelahan dengan cepat. Dalam kasus demikian, lebih mengganggu subtes akan dilaksanakan lebih awal dalam ujian. Dalah hal kepentingan memperpendek total waktu pelaksanaan tes, penguji yang terlatih bisa menghilangkan subtes tertentu yang dia anggap tidak menyediakan informasi apapun diatas atau dibawah yang sudah diperoleh. Mari kita mengulangi pernyataan bahwa penyimpangan dalam administrasi atas tes-tes yang distandarkan seperti skala-skala Wechsler dapat dilakukan-dan sangat berarti-oleh para ahli psikologi syaraf yang terlatih dan berpengalaman. Untuk kita-kita ini, dengan memakai buku!

TES UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN MELAKUKAN ABSTRAK Satu gejala yang dihubungkan secara umum dengan kemunduran psikologi syaraf, tanpa mempertimbangkan tempat atau penyebab pasti dari masalah adalah ketidak mampuan atau kemampuan yang menyurut untuk berpikir secara abstrak. Satu ukuran tradisional dari kemampuan abstraksi verbal telah menjadi subtes Kesamaan Wechsler, terpisah dari versi umur yang tepat dari skala intelegensi Wechsler. Tugas dalam subtest ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana dua obyek (contohnya, sebuah bola dan sebuah jeruk) memiliki kemiripan.

Jenis tugas lain yang biasa digunakan untuk menilai kemampuan berpikir secara abstrak adalah interprestasi peribahasa. Contohnya, interprestasi peribahasa sebagai berikut:

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Dalam interprestasi anda akan peribahasa ini menyampaikan gagasan bahwa terburu-buru mendatangkan kerugian, kemudian anda menunjukkan dengan jelas kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Sebaliknya, beberapa orang dengan kemunduran psikologi syaraf mungkin telah mengartikan bawha peribahasa lebih konkrit (yaitu, dengan sedikit abstraksi). Disini adalah contoh dari intreprestasi konkrit: Pada saat menjahit, ambillah satu jarum sekaligus-hal ini akan menghindari anda mengambil jarum itu lebih dari sembilan kali. Jenis respon demikian mungkin (atau tidak mungkin, bergantung pada faktor-faktor lainnya) mengkhianati kemunduran dalam kemampuan berabstraksi. Uji Peribahasa, suatu alat yang secara khusus dirancang untuk menguji abstraksi dan berhubungan dengan kemampuan memuat sejumlah peribahasa bersama dengan petunjuk administrasi tes dan data normatif. Dalam satu bentuk dari tes ini, subyek diperintahkan untuk menulis suatu penjelasan dari peribahasa. Pada bentuk lain dari tes, satu pilihan berganda ini, masing-masing peribahasa diikuti oleh empat pilihan, tigas yang mungkin salah menginterprestasikan secara umum atau respon konkret.

Tes non verbal dari abstraksi termasuk apapun dari berbagai tes pilihan – tes yang meminta responden untuk memilih obyek dalam beberapa cara yang logis. Umumnya pada kebanyakan tes-tes pilihan adalah perintah seperti “Kelompokkan jadi satu semua benda milik kepunyaannya,” diikuti dengan pertanyaan seperti “Mengapa anda mengelompokkan benda-benda tersebut bersama-sama?” perwakilan dari tes demikian adalah Tes Pemilihan Obyek (menunjuk kembali pada Gambar 14-1) dan Tes Pemilihan Bentuk Warna (juga dikenal sebagai Tes Weigl), yang mana meminta peserta tes untuk memilih obyek dari bentuk dan warna yang berbeda. Cara lain memilih tugas adalah dilaksanakan dengan cara pengelompokkan beberapa benda-benda perangsang bersama-sama dan meminta peserta tes (a) menjelaskan mengapa benda-benda tersebut di satukan atau (b) untuk memilih benda yang tidak memiliki pasangan.

Versi Kartu Tes-64 Memilih Kartu Wisconsin (WCST-64; Kongs dkk., 2000) meminta peserta tes untuk memilih satu pak kartu berisi 64 kartu yang memuat gambar-gambar geometri yang berbeda dicetak dengan warna yang berbeda. Kartu dipilih menurut aturan yang sesuai yang harus diduga dan pergeseran tersebut sebagai kemajuan tes. Performa yang berhasil pada tes ini memerlukan beberapa kemampuan yang berhubungan dengan fungsi cuping depan, termasuk konsentrasi, perencanaan, organisasi, fleksibilitas kognitif dalam set pergantian, ingatan yang bekerja, dan halangan dari respon impulsive. Tes yang mungkin berguna dalam screening untuk perlemahan psikologi syaraf dengan atau tanpa luka yang dianggap dari cuping depan. Perhatian disarankan saat menggunakan tes ini atau yang serupa, sebagaimana beberapa bukti memberi kesan bawha tes bisa menunjukkan kesalahan perlemahan psikologi syaraf pada saat peserta tes ternyata memiliki schizophrenia atau gangguan mood (Heinrichs, 1990). Oleh sebab itu hal ini penting bagi dokter klinik untuk mengesampingkan penjelasan alternatif untuk tes performa indikasi atas kemunduran psikologi syaraf.

TES FUNGSI EKSEKUTIF Tes-tes pemilihan mengukur satu elemen dari fungsi eksekutif, yang mana bisa ditetapkan sebagai pengorganisasian, perencanaan, fleksibilitas kognitif, dan halangan impulse dan aktifitas yang berhubungan dengan otak cuping depan (frontal) dan pra-frontal. Satu tes digunakan untuk mengukur fungsi eksekutif adalah Menara Hanoi (Gambar 14-2), sebuah puzzle yang dibuat penampilannya untuk pertama kali di Paris pada tahun 1883 (Rohl, 1993). Dibuat dengan cara menumpukkan cincin pada salah satu tiang , dimulai dengan cincin dengan diameter yang paling besar, berturut-turut tanpa ada cincin yang lebih kecil yang tersisa. Kemungkinan karena penampilan dari cincin-cincir yang ditumpuk ini mengingatkan pada sebuah pagoda, puzzle diberi nama La Tour de Hanoi. Menara Hanoi, salah satunya dalam bentuk padat untuk manipulasi tangan atau diambil untuk administrasi terkomputerisasi dalam bentuk grafik, telah digunakan oleh banyak peneliti untuk mengukur berbagai aspek fungsi eksekutif (Aman dkk., 1998; Arnett dkk., 1997; Butters dkk., 1985; Byrnes & Spitz, 1977, Glosser & Goodglass, 1990; Goel & Grafman, 1995; Goldberg dkk., 1990; Grafman dkk., 1992; Leon-Carrion dkk., 1991; Mazzocco dkk., 1992; Miller & Ozonoff, 2000; Minsky dkk., 1985; Schmand dkk., 1992; Spitz dkk., 1985).

Penampilan simpang siur adalah jenis tugas yang lain yang biasa digunakan untuk mengukur fungsi eksekutif. Pada permulaan tahun 1930-an, ahli psikologi Stanley D. Porteus terpikat dengan potensi penilaian psikologi yang nampaknya tugas sederhana mengidentifikasi jalur yang benar dalam suatu simpang siur dan kemudian menelusuri satu jalur ke titik akhir dari simpang siur tersebut. Jenis tugas ini mulanya diperkenalkan untuk menghasilkan estimasi kuantitatif dari “kebijaksanaan, pemikiran ke masa depan, kesiapan mental, dan kekuatan perhatian yang dipertahankan” (Porteus, 1942). Porteus mendesak rekan kerjanya untuk menggunakan simpang siur (maze) untuk tujuan penelitian yang berbeda berkisar dari eksplorasi perbedaan budaya (Porteus, 1933) sampai studi ketidakcukupan sosial (Porteus, 1955) sampai studi sifat-sifat kepribadian dengan membawa analisa kualitatif dari performa peserta tes (Porteus, 1942). Hari ini, tugas-tugas maze seperti pada Tes Maze Porteus (Gambar 14-3) terutama digunakan sebagai ukuran dari fugnsi eksekutif (Daigneault, dkk., 1992; Krikorian & Bartok, 1998; Mack & Patterson, 1995). Meskipun berguna dalam pengukuran fungsi demikian pada orang dewasa, kegunaannya untuk tujuan tersebut pada anak-anak telah dipertanyakan. Shum dkk., (2000) mengamati tidak ada pengaruh kuat sebaliknya pada performa maze Porteus dari anak-anak dengan luka otak traumatis.

Soal-soal yang mewakili untuk empat jenis lainnya dari tuas yang bisa digunakan dalam penilaian psikologi syaraf digambarkan dalam Gambar 14-4. Bagian (a) menggambarkan soal membuat jejak. Tugas adalah untuk menghubungkan lingkaran dengan cara yang logis. Jenis tugas ini dianggap membuka banyak kemampuan, termasuk konsep melihat, visual-motor, perencanaan, dan kemampuan kognitif lainnya, meskipun tepat dimana kemampuan dibuat telah menjadi masalah perdebatan yang panjang (Stanczak dkk., 1998). Tes Membuat Jejak dalam Baterai Psikologi syaraf Halstead-Reitan (baterai tetap dibahas singkat) adalah diantara ukuran yang paling luas digunakan untuk kerusakan otak (Salthouse dkk., 2000; Thompson dkk., 1999) dan telah digunakan dalam berbagai studi (Bassett, 1999; Beckham dkk., 1998; Compton dkk., 2000; King dkk., 2000; Nathan dkk., 2001; Ruffolo dkk., 2000; Sherrill-Pattison dkk., 2000; Wecker dkk., 2000).

Ilustrasi (b) dalam Gambar 14-4 adalah suatu contoh dari soal bidang pencarian. Ditunjukkan suatu sampel atau target rangsangan (biasanya beberapa pilihan bentuk atau desain), peserta tes harus memindai (scan) bidang dari berbagai stimuli untuk mencocokkan sampel. Jenis soal ini biasanya menggunakan waktu. Orang-orang dengan luka dibelahan sebelah kanan mungkin menunjukkan kemunduran dalam kemampuan memindai visual, dan tes kemampuan bidang pencarian bisa menjadi nilai dalam penemuan kemunduran demikian. Kemampuan bidang pencarian memiliki nilai penyesuaian yang kuat dan mampu memiliki konsekuensi hidup atau mati bagi pemangsa dan mangsa. Penelitian bidang pencarian telah mendapati banyak aplikasi. Contohnya, hal ini membantu kita untuk memahami lebih baik beberapa aktifitas sehari-hari seperti mengendarai (Crundall dkk., 1998; Duchek dkk., 1998; Guerrier dkk., 1999; Recarte & Nunes, 2000; Zwahlen dkk., 1998) sama dengan aktifitas yang lebih dikhususkan seperti mengemudikan pesawat terbang (Seagull &Gropher, 1997) dan memonitor lalu lintas udara (Remington dkk., 20000.

Ilustrasi (c) adalah sebuah contoh dari gambaran jalur sederhana mengingatkan jenis soal yang muncul dalam alat-alat seperti Tes Naming Boston. Tugas peserta tes yang mengikuti tes Boston (sebagaimana seringkali disingkat) adalah konfrontasi pemberian nama; yaitu pemberian nama masing-masing rangsangan yang ditunjukkan. Nampaknya tugas sederhana ini memerlukan tiga komponen operasi: komponen perseptual (membentuk ciri-ciri visual dari rangsangan), komponen semantik (memasuki perwakilan konseptual yang mendasari atau arti inti dari apapun yang digambarkan), dan komponen leksikal (memasuki dan mengekspresikan nama dengan tepat). Kesulitan dengan tugas pemberian nama oleh sebab itu bisa mengakibatkan dalam kemrosotan di semua komponen atau komponen apapun. Orang yang berkompromi dengan psikologi syaraf sebagai hasil dari penyakit  Alzheimer atau dementia lainnya secara khusus mengalami kesulitan melakukan tugas pemberian nama.

Ilustrasi (d) dalam Gambar 14-4 adalah apa yang disebut dengan soal kemustahilan gambar. Ekuivalen bergambar dari soal kemustahilan verbal, tugas disini adalah untuk mengidentifikasi apa yang salah atau bodoh tentang gambar. Hal ini serupa dengan soal-soal kemustahilan gambar pada tes intelegensi Stanford-Binet. Sebagaimana dengan soal-soal Komprehensi jenis Wechsler, jenis soal ini bisa memberikan wawasan kedalam komprehensif sosial peserta tes dan kemampuan mempertimbangkan.

TES PERSEPTUAL, MOTOR, DAN FUNGSI PERSEPTUAL-MOTOR(Dinar) Istilah tes perseptual adalah referensi umum bagi apapun banyaknya alat-alat dan prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi aspek yang bervariasi dari fungsi sensor, termasuk aspek melihat, mendengar, mencium, meraba, merasa, dan keseimbangan. Serupa halnya, tes motor adalah referensi umum pada apapun dari banyaknya alat-alat dan prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi aspek-aspek yang berbeda dari kemampuan seseorang dan mobilitas, termasuk kemampuan untuk menggerakkan anggota badan, mata, atau bagian tubuh lainnya. Istilah tes motor perseptual adalah referensi umum pada apapun banyaknya instrumen (alat) dan prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi penggabungan atau kordinasi kemampuan motor dan perseptual. Contohnya, meletakkan bersama-sama jig-saw puzzle membuka jalan kemampuan perseptual-motor – lebih khusus, kordinasi mata-tangan. Ratusan tes telah dirancang untuk mengukur berbagai aspek perseptual, motor, dan fungsi perseptual-motor. Beberapa darinya anda mungkin telah mendengar sebelumnya sebelum anda memutuskan untuk mengambil mata pelajaran dalam penilaian. Contohnya, apakah Ishihara kedengarannya tidak asing? Tes Ishihara (1964) digunakan untuk memindai kebutaan warna. Lebih khusus lagi – dan kurang terkenal – alat-alat yang tersedia jika diduga bentuk yang jarang dari kemrosotan persepsi warna.

Diantara tes-tes yang tersedia untuk pengukuran kemrosotan dalam fungsi auditory adalah Tes Diskriminasi Auditory Wepman. Tes mudah untuk dilakukan yang singkat ini memerlukan penguji yang membaca daftar dari 40 pasangan kata-kata yang berarti satu suku kata (seperti muss/much) diucapkan dengan bibir yang tertutup (tolong tidak disaring) oleh salah satunya sekat atau tangan. Tugas penguji adalah untuk menentukan apakah dua kata adalah sama atau berbeda. Hal ini benar-benar tes yang jujur – memperlengkapi penguji bukan kesulitan dari kesalahan bicara, tidak memiliki aksen yang berat, dan tidak berkomat-kamit. Sampel untuk standarisasi untuk tes menunjukkan kisaran yang luas di dalam populasi, tapi ada sedikit informasi yang tersedia tentang reliabilitas dan validitas tes. Manual tes juga gagal untuk menjelaskan kondisi administrasi yang distandarkan, dimana kritikan secara khusus untuk tes yang diberikan sifat dasar dari stimuli (Pannbacker & Middleton, 1992).

Suatu tes yang dirancang untuk menilai buruk dan baiknya ketrampilan motor adalah Tes Bruininks-Oseretsky Ketrampilan Motor. Dirancang untuk anak-anak berumur 4,5 – 14,5 tahun, alat ini termasuk subtes yang menilai kecepatan berlari dan kecerdasan, keseimbangan, kekuatan, kecepatan respon, dan ketangkasan. Catatan tambahan, sampul kotak tes dapat digunakan sebagai alat screening informal untuk kemampuan membaca dengan meminta kolega untuk menyebutkan nama tes dengan benar. Sebuah tes yang dirancang untuk mengukur ketangkasan manual adalah Tes Papan pasak Purdue. Pada mulannya dikembangkan pada akhir tahun 1940-an sebagai sebuah bantuan dalam melakukan seleksi, objeknya adalah memasukkan tiang kedalam lubang pertama menggunakan satu tangan, kemudian tangan yang lain, kemudian kedua tangan. Masing-masing dari tiga segmen tes ini memiliki batas waktu 30 detik, dan skor adalah sama dengan jumlah tinga yang ditempatkan dengan benar. Data normatif tersedia , dan ini patut diperhatikan bahwa pada populasi luka bukan otak, wanita umumnya melakukan sedikit lebih baik pada tugas ini daripada pria. Dengan subyek luka otak, tes ini bisa membantu menjawab pertanyaan menyangkut luka yang mengarah kesamping.

Mungkin salah satu dari alat psikologi syaraf yang digunakan paling luas adalah Tes Gestalt Visual-Motor Bender, biasanya menunjuk pada kemudahan seperti Bender-Gestalt atau bahkan hanya “Bender.” Dikembangkan mulanya oleh Lauretta Bender (Gambar 14-5), tes terdiri dari sembilan kartu, masing-masing dicetak satu desain. Desain telah digunakan oleh ahli psikologi Max Wertheimer (1923) dalam studynya persepsi gestalten (artinya “keseluruhan konfigurasi”). Bender (1938) percaya desain ini dapat digunakan untuk menilai kematangan perseptual dan perlemahan syaraf. Peserta tes ditunjukkan masing-masing dari kartu tersebut dan diperintahkan “Menyalinnya semampu anda.” Meskipun tidak ada batas waktu, biasanya waktu tes lama atau singkat dipertimbangkan menjadi signifikan diagnostik. Waktu pelaksanaan rata-rata untuk semua sembilan desain adalah kira-kira lima menit – fakta juga memberikan kontribusi pada semangat yang lebih luas diantara para pengguna tes.

Gambar 14-6 Kesalahan Sampel pada Bender-Gestalt

Jenis kesalahan ini memberi kesan perlemahan organik. Bukan semua kesalahan yang digambarkan ditandai perlemahan organik di semua umur.

Bender (1938, 1970) berkeinginan tes diberi skor dengan memakai penilaian klinis. Hal ini dipublikasikan dengan beberapa petunjuk pemberian skor dan tidak ada informasi normatif. Tetap saja, sejumlah sistem pemberian skor kuantitatif untuk tes sederhana yang menarik ini segera disediakan untuk protocol dewasa (Brannigan & Brunner, 2002; Hutt, 1985; Pascal & Suttell, 1951; Reichenberg & Raphael, 1992) dan anak (Koppitz, 1963, 1975; Reichenberg & Raphael, 1992). Sampling terminologi pemberian skor umumnya kepada banyak sistem ini yang ditunjukkan dalam Gambar 14-6. Sebagai tambahan, sejumlah perubahan diusulkan, seperti tambahan fase ingatan. Setelah semua sembilan desain telah disalin, selembar kertas kosong ditempatkan didepan peserta tes dengan perintah “Sekarang gambarlah semua desain yang bisa anda ingat.” Gobetz (1953) mengusulkan prosedur ini sebagai arti dari uji hipotesis tentang performa yang berbeda dari Bender sebagai fungsi kepribadian. Dia menghipotesa bahwa memiliki tekanan dari tes kedua yang tidak diduga, para subyek mendiagnosa sebagai neurotik yang bisa mengingat lebih sedikit gambar-gambar pada porsi ingatan tes daripada yang terjadi pada subyek normal. Prosedur ingatan digunakan secara luas, bagaimanapun, bukan sebagai alat penyediaan data yang berhubungan dengan kepribadian tapi agaknya sebagai alat penyedia data psikologi syaraf tambahan.

Tes Gestalt Visual-Motot Bender, Edisi Kedua (Bender Gestalt II; Brannigan & Decker, 2003) menambah tujuh soal baru, memperluas jangkauan kemampuan yang dinilai oleh sebelumnya. Empat dari soal yang digunakan secara eksklusif dengan peserta tes dari umur 4 tahun sampai 7 tahun 11 bulan, dan tiga dari soal-soal yang baru digunakan secara ekslusif dengan peserta tes dari umur 8 tahun sampai 85 tahun atau lebih. Fase ingatan akan dibuat menjadi tes, sebagaimana dua tes tambahan yang disebut Tes Motor dan Tes Persepsi. Tes-tes tambahan dirancan untuk mendeteksi kemunduran dalam performa atau ketrampilan motor yang akan mempengaruhi performa secara merugikan. Tugas dalam Tes Motor adalah untuk menggambar garis diantara titik-titik tanpa menyentuh batas. Tugas dalam Tes Persepsi adalah untuk melingkari atau memberi titik pada desain yang paling cocok dengan desain stimulus. Tes dilaksanakan dengan pengambilan fase Salin (menyalin desain), fase Ingatan (mencipta ulang desan yang digambar dari ingatan), Tes Motor, dan kemudian Tes Persepsi. Fase Salin dan Ingat diberi batas waktu. Petunjuk khusus untuk pemberian skor disediakan seluruhnya. Contohnya, selama fase Salin, ketidaksesuaian antara desain pada kartu stimulus dan respon orang yang dinilai diberi skor sebagai berikut:

0 = Tidak menyerupai, gambar acak, tulisan cakar ayam, kurang desain

1 = Sedikit – samar-samar menyerupai

2 = Beberapa – cukup menyerupai

3 = Kuat – mendekati mirip, salinan yang akurat

4 = Mendekati sempurna

Bender-Gestalt II distandarkan pada 4.000 individu dari umur 4 sampai 85+ yang cocok dengan Sensus Ameriksa serikat 2000. Termasuk anggota dari populasi khusus, termasuk individu dengan keterbelakangan mental, gangguan belajar, gangguan hiperaktif kurang perhatian, autism, penyakit Alzheimer, dan berbakat. Banyak studi membuktikan pada reliabilitas dan validitas tes ditunjukkan dalam tes manual. Jenis studi reliabilitas dilaporkan pada tes-tes ulang, konsistensi internal, dan variasi inter-rater. Studi validitas diinterprestasikan sebagai dukungan pandangan bahwa tes mengukur bagaiaman isi/pokok tersebut diukur. Pengarang tes menyimpulkan bahwa tes

Mengukur tunggal yang mendasari susunan yang sensitif dengan kematangan dan/atau pengembangan, dan skor dari fase Salin dan Ingat sangat dipengaruhi dan sensitif dengan kondisi klinis. Dimensi ini menyediakan kegunaan yang ditambahkan pada tes. (Brannigan & Decker, 2003, hal. 67).

Tentu saja, sebagai pembuat tes mengetahui, penentuan menyangkut psikometrik suara dari tes baru adalah proses yang sedang berjalan. Murid yang tertarik disarankan untuk mengecek publikasi yang baru untuk tinjauan independen dari tes ini sebagaimana hal tersebut dipublikasikan.

TES FUNGSI VERBAL Kelancaran verbal dan kelancaran dalam menulis terkadang dipengaruhi oleh luka pada otak, dan ada tes untuk menilai tingkat kemunduran dalam ketrampilan demikian. Pada Controlled Word Association Test (Tes Hubungan Kata yang Dikuasai) (awalnya Tes Kelancaran  Hubungan Verbal), pemeriksa mengatakan huruf alphabet, dan ini adalah tugas subyek untuk mengatakan sebanyak kata-kata yang dia bisa pikir bahwa kata tersebut dimulai dengan huruf. Masing-masing dari tiga percobaan mempergunakan tiga perbedaan huruf sebagaimana sebuah stimulus dan akhir; skor akhir peserta tes pada tes mencerminkan total jumlah dari kata-kata benar yang dihasilkan, diberi bobot dengan faktor-faktor seperti jenis kelamin, umur, dan pendidikan dari peserta tes. Skor Tes Hubungan Kata yang Dikuasai berhubungan dengan petunjuk yang dikatakan sebagai kebenaran pada kemampaun pasien dementia untuk menyelesaikan tugas kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan telepon atau menulis sebuah check (Loewenstein dkk., 1992). Dan meskipun orang-orang dengan dementia cenderung memiliki nilai buruk dalam tes sebagaimana dibandingkan dengan kontrol, perbedaan yang diamati tidak cukup signifikan untuk membenarkan menggunakan tes sebagai indikator dementia (Nelson dkk., 1993).

Inventarisasi Pengembangan Komunikasi Berangkai (SICD) adalah tes yang dirancang untuk menilai pengembangan penerimaan dan komunikasi ekspresif pada anak-anak berumur 4 bulan sampai 4 tahun. Tes memuat sejumlah pengamatan dan prosedur tes yang dirancang untuk menilai berbagai aspek kesadaran dan pemahaman anak kecil. Dalam dukungan atas validitas susunan tes, dua studi menunjukkan bahwa infeksi telinga tengah kronis pada anak kecil menyebabkan penundaan dalam pengembangan bahasa sebagaimana yang diukur oleh SICD (Friel-Patti & Finitzo, 1990; Wallace dkk., 1988).

Jangan bingung dengan aphagia, aphasia menunjuk pada kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan diri sendiri atau memahami bahasa yang dibicarakan atau ditulis karena terjadi beberapa kemunduran psikologi syaraf. Sejumlah tes telah dikembangkan untuk mengukur aspek aphasia. Contohnya, Tes Screening Aphasia Reitan-Indiana (AST), tersedia dalam bentuk bagi anak dan dewasa, memuat berbagai tugas seperti memberi nama benda-benda umum, mengikuti perintah verbal, dan menulis kata-kata yang sudah dikenal. Analisa faktor memberi kesan bahwa tugas ini memuat dua faktor: kemampuan bahasa dan kordinasi yang melibatkan dalam menulis kata-kata atau menggambar benda (Williams & Shane, 1986). Kedua bentuk tes dirancang menjadi alat screening yang bisa dilaksanakana dalam waktu 15 menit atau kurang. Digunakan sendiri sebagai alat screening (Reitan, 1984a, 1984b; Reitan & Wolfson, 1992) atau dalam kombinasi dengan tes lainnya (Tramontana & Boyd, 1986), AST bisa bernilai dalam membedakan peserta tes yang memiliki kerusakan otak dari mereka yang tidak memiliki kerusakan otak. Bagi peserta tes keturunan Hispanic, alat relevan yang lebih berbudaya mungkin menjadi Ujian Aphasia Multi bahasa. Rey dkk., (1999) mendapati norma-norma yang dipublikasikan dibandingkan dengan data mereka sendiri menggunakan sampel peserta Hispanic. Mereka juga mendiskusikan masalah khusus yang dihadapi dalam penelitian psikologi syaraf dengan Hispanic dan memberi petunjuk dan petunjuk untuk penelitian masa depan.

Tes-tes Ingatan Ingatan adalah hal yang rumit, fungsi kognitif multi bidang yang menentang penjelasan sederhana. Untuk menghargai seberapa rumit hal tersebut, pertimbangkan berikut ini:

Manusia memiliki urat syaraf yang diperkirakan 1 trilliun, ditambah hubungan synaptik 70 trilliun diantaranya…  Satu urat syaraf mungkin memiliki sebanyak 10.000 synapsi, tapi selama proses pembentukan ingatan mungkin hanya 12 synapsi yang akan diperkuat sementara 100 lainnya akan dilemahkan. Jumlah dari perubahan tersebut, neuron yang dikalikan oleh neuron, menciptakan suatu circut yang dimuati yang mana menjadi sesuatu yang berarti untuk ingatan (Hall, 1998, hal. 30).

Model yang berbeda dari memory/ingatan bersaing untuk pengakuan dalam komunitas ilmu pengetahuan, dan tidak ada model yang telah mengumpulkan penerimaan universal. Untuk tujuan kami, suatu model sampel ditunjukkan dalam gambar 14-7 – bersama dengan surat protes dimana model yang relatif sederhana ini, ditambahkan bersama-sama dari berbagai sumber, tidak lengkap seutuhnya dan tidak diterima secara universal. Dan lagi, model memuat elemen yang tetap menjadi bahan perdebatan diantara para peneliti sekarang ini.

Gambar 14-7 Sebuah Model dari Memory

Menurut model kami, hasil-hasil ingatan dari pengolahan informasi melalui sistem urat syaraf input sensor eksternal (aktual), seperti melihat, suara, bau, dan rasa. Penglihatan anda yang tersimpan akan wajah orang yang anda kasihi, lagu yang tidak akan pernah anda lupakan, dan aroma segar rumput yang ditanam adalah contoh-contoh dari ingatan yang dibentuk dari input sensor aktual. Ingata dari pilihan mungkin juga dihasilkan dari apa yang dihasilkan seseorang secara internal, dengan tidak adanya sensasi aktual. Apa yang orang bayangkan, impikan, dan salah merasakan itu semua adalah contoh dari pilihan ingatan berikutnya. Tentu saja, dominasi dari yang dibayangkan pilihan ingatan bisa menjasi masalah signifikansi yang klinis. Batas antara saluran input sensor dan kesadaran diputus untuk menunjukkan bahwa tidak semua input sensor secara otomatis membuatnya masuk dalam kesadaran. Perhatian, konsentrasi, dan faktor-faktor yang berhubungan memainkan peran penting dalam penentuan input mana yang sebenarnya membuat hal tersebut menjadi kesadaran.

Bertentangan dengan gambaran populer memory sebagai gudang pilihan, ingatan adalah suatu proses yang sangat aktif, diduga memerlukan proses baik jangka panjang maupun jangka pendek, dimana hal ini tersimpan sementara selama beberapa detik atau selama satu atau dua menit. Ingatan jangka pendek juga digolongkan oleh beberapa peneliti sebagai sinonim sebenarnya dengan ingatan yang bekerja (Daneman & Carpenter, 1980; Newell, 1973). Pandangan yang lebih tradisional dari memory jangka pendek adalah sebagai saringan pasif dimana informasi ditransfer ke memory jangka panjang atau dihilangkan (yaitu dilupakan). Model kami memungkinkan baik untuk komponen aktif maupun pasif dari memory jangka pendek, dengan menyandikan ingatan jangka panjang yang aktif, komponen “yang sedang bekerja” dari ingatan jangka pendek.

Dalam model kami, mencatat bahwa jalan antara ingatan jangka pendek dan kesadaran adalah dua jalur. Stimulus dari kesadaran bisa dipancing kedalam ingatan jangka pendek, dan ingatan jangka pendek bisa memancing stimuli kembali ke kesadaran. Catat juga bahwa jalan menuju ingatan jangka panjang digambarkan dengan jalur yang terputus – hal ini menunjukkan bahwa tidak semua informasi dalam ingatan jangka pendek disandikan dalam ingatan jangka panjang.

Dengan memperhatikan pada ingatan jangka panjang, para peneliti telah membedakan antara ingatan prosedural dan deklarasi. Ingatan Prosedural adalah ingatan untuk hal-hal seperti menyetir mobil, memasukkan data dengan keyboard, atau mengendarai sepeda. Kebanyakan dari kita bisa menggambar pada ingatan prosedural dengan sedikit usaha dan konsentrasi. Ingatan Deklaratif menunjuk pada ingatan materi faktual – seperti membedakan antara komponen deklaratif ingatan jangka panjang untuk tujuan ilustrasi.

Juga diilustrasikan sebagai yang dipisah-pisah adalah apa yang dipercaya secara luas menjadi dua komponen ingatan deklaratif: ingatan semantik dan episodik. Ingatan semantik sangat berhubungan dengan berbicara, ingatan akan fakta-fakta. Ingatan Episodik adalah ingatan akan fakta-fakta dalam konteks atau situasi tertentu. Contoh darip ingatan episodik atau ingatan konteks-terikat mungkin mengumpulkan kembali nama-nama teman sekelas sementara di dalam kelas tapi bukan pada kesempatan bertemu di acara sosial. Diminta untuk mengulang digit dalam konteks tes ingatan adalah contoh lain dari ingatan episodik karena dihubungkan dengan kereatan pada konteks (pengujian).

Sebagaimana yang ditunjukkan dengan jalan satu jalur dari ingatan jangka panjang pada kesadaran, informasi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang tersedia untuk diambil. Apakan informasi yang diambil dapat disimpan kembali secara langsung untuk ingatan jangka panjang atau sebaliknya harus diproses lgi melalui ingatan jangka pendek, hal tersebut adalah persoalan yang diperdebatkan.

Tes-tes psikologi syaraf dirancang untuk mengevaluasi ingatan membuka komponen yang berbeda dari ingatan sebagaimana yang dijelaskan dalam model kami. Salah satu dari tes ingatan yang digunakan paling luas, Skala Memory Wechsler-III (WMS-III), terutama membuat ingatan episodik deklarasi. Sebagaimana yang dinyatakan dalam manual teknis-nya, “Informasi yang ditunjukkan adalah baru dan secara kontekstual mengikat dengan situasi pengujian dan memerlukan peserta uji untuk belajar dan mengingat informasi” (Tulsky dkk., 1997, hal 3). Banyak seperti pendahulunya (WMS-R), WMS-III adalah suatu tes memory yang dilakukan secara individu dirancang untuk remaja yang lebih tua dan dewasa. Bagaimanapun, ada banyak perbedaan yang signifikan antara WMS-R dan WMS-III dalam hal subtes dan skala tes, pengembangan norma, struktur indeks dan pemberian skor indek, dan faktor-faktor yang berhubungan (lihat Tulsky dkk., 1997).

WMS-III meminta peserta uji untuk menyelesaikan tugas-tugas seperti menceritakan ulang cerita dengan suara yang lantang, merangkai huruf dan angka (serupa dengan tugas Merangkai Huruf-Angka yang dijelaskan sebelumnya untuk WAIS-III), dan mempelajari pasangan kata yang nampaknya tidak berhubungan. Juga ada subtes yang melibatkan pengenalan gambar wajah. Peserta uji ditujukkan pertama kali dengan kesatuan wajah target. Mereka kemudian harus mengidentifikasi yang mana wajah target yang termasuk diantara pertunjukkan kedua dari wajah yang termasuk dalam baik target dan wajah lainnya. Tes-tes pilihan memasukkan tugas-tugas yang terkait seperti membuat ulang desain yang ditunjukkan pada kartu dan tugas berganda (yaitu, melakukan lebih daripada suatu hal pada saat itu, seperti menghafal huruf selagi menghitung mundur dari 30).

Studi faktor-analisa ditunjukkan dengan WMS-III mendukung solusi faktor yang berbeda sebagai fungsi dari kelompok umur. Bagaimanapun pada umumnya, penemuan diinterprestasikan oleh tiga pengembang sebagaimana mendukung tiga faktor yang dibuka oleh tes: ingatan auditory yang tertunda dan dengan segera, ingatan visual yang tertunda dan dengan segera, dan ingatan yang berjalan.

Gambar 14-8 Dua alat yang Digunakan dalam Pengukuran Ingatan tactile

(a) Empat buah kawat yang ditekuk kedalam “gambar nyata yang tidak berguna” bisa digunakan dalam tes tactile dari ingatan dengan segera. Orang yang diperiksa mungkin diperintahkan untuk merasakan salah satu dari gambar dengan tangan kanan atau tangan kiri mereka (atau kedua tangan) dan kemudian menempatkan gambar yang sesuai. (b) ditunjukkan disini satu bentuk dari Seguin-Goddard Formboard. Perintah untuk menutup mata dengan kain pada orang yang diperiksa untuk menyesuaikan masing-masing dari sepuluh balok berkayu kedalam ruang kosong yang tepat dalam formboard dengan masing-masing tangan yang terpisah dan kemudian dengan kedua tangan. Setelah itu, orang yang diperiksa mungkin diminta untuk menggambarkan formboard dari ingatan. Semua respon diberi skor untuk keakuratannya.

Dua pendekatan yang lain pada pengujian ingatan digambarkan dalam gambar 14-8. Dalam suatu pendekatan yang ditemukan oleh Milner (1971), gambar-gambar nyata yang tidak berguna digunakan untuk mengukur ingatan tactile (atau haptic) dengan segera. Tes ingatan tactile lainnya melibatkan penyesuaian pelaksanaan Seguin-Goddard Formboard. Halstead (1947a) menyarankan bahwa formboard dapat digunakan untuk menilai ingatan tactile jika peserta uji diberi kain penutup mata selama tes dan menambahkan percobaan mengingat.

Satu upaya untuk membuat tes ingatan lebih nyata adalah menggabungkannya tugas-tugas yang orang-orang harus lakukan setiap hari. Deretan tes yang terkomputerisasi dikembangkan oleh Thomas Crook dan digambarkan oleh Hostetler (1987) menggunakan angka dari tugas dunia nyata (seperti memutar menelepon dan menghubungkan nama-wajah). Deretan telah dilakukan sebagai suatu hasil ukuran dalam studi kemanjuran dari berbagai obat dalam pengobatan penyakit Alzheimer.
DERETAN TES PSIKOLOGI SYARAF(Wahyu)

Berdasarkan pengujian status mental, pengujian fisik, dan data sejarah kasus, ahli psikologi syaraf umumnya mengambil deretan tes untuk studi klinis tambahan. Ahli psikologi syaraf yang terlatih bisa melakukan tes deretan tetap pra-paket, atau mereka bisa mengubah deretan yang ditetapkan untuk kasus yang ada. Mereka bisa memiliki untuk melaksanakan deretan fleksibel, terdiri dari suatu penyerapan alat-alat yang diambil dengan tangan untuk beberapa tujuan yang relevan dengan aspek unik dari pasien dan masalah yang ditunjukkan.

Dokter klinis yang melakukan deretan fleksibel tidak hanya bertanggung jawab atas pemilihan tes yang digunakan tapi juga beban menggabungkan semua penemuan dari masing-masing tes individu – tidak ada tugas sederhana, karena masing-masing tes mungkin diatur pada populasi yang berbeda. Masalah lain yang mengikuti dalam penggunaan deretan fleksibel adlaah bahwa tes dilaksanakan sesering mungkin melebihi pada beberapa fungsi-fungsi yang diuji, dan hasilnya adalah beberapa hal yang tidak perlu dalam pengujian dan waktu pemberian skor. Tanpa mempertimbangkan hal ini dan pengambilan lainnya, pemilihan dari ahli psikologi syaraf yang paling terlatih secara tradisional telah menyesuaikan deretan tes pada permintaan khusus dari situasi pengujian tertentu. Tentu saja, semua yang mungkin berubah sebagai hasil dari tindakan judicial (lihat Close-up dalam bab ini).

Close-up

Tes Psikologi syaraf yang Ditetapkan Versus Fleksibel Deretan dan Hukum

Apakah pengadilan memiliki pilihan menyangkut tes-tes yang khusus dilakukan oleh penilai yang berfungsi sebagai saksi ahli dalam proses peradilan? Dengan referensi pada penilaian psikologi syaraf, apakah ini bermasalah jika penilai melakukan deretan fleksibel atau yang ditetapkan? Peraturan dari pengadilan federal dalam Chapple v. Ganger adalah ringan dengan menunjuk pada pertanyaan demikian. Dalam kasus Chapple, pengadilan menerapkan standar Daubert dengan mempertimbangkan pada pendaftaran bukti ilmiah.

Kasus Chapple

Pada mulanya Chapple bersama dengan sebuah kecelakaan mobil dimana seorang anak laki-laki yang berumur 10 tahun bertahan menderita luka kepala. Penuntut mengklaim bahwa ini luka fungsi otak yang melemahkan dan permanen, dimana tergugat menolak klaim ini. Tiga pemeriksaan psikologi syaraf pada anak laki tersebut dilakukan dengan tigas penilai yang berbeda pada tiga kali yang berbeda. Pertama dilakukan oleh ahli psikologi klinis, yang mengambil deretan tes fleksibel, termasuk Tes Screening Aphasia, Tes Retensi Penglihatan Benton, Kubus Knox, Tes Gambar Rumit Rey, Tes Ritme Pantai, Tes Jejak, dan Tes Pemilihan Kartu Wisconsin. Sebagai tambahan, deretan fleksibel termasuk tes-tes yang lain seperti Menggambar sebuah Sepeda, Menggambar sebuah Jam, Menggambar sebuah Keluarga, Menggambar Orang, Tes Kategori, Kalimat-kalimat yang tidak lengkap, Tes Dominasi Lateral, Tes Mengetuk Jari Manual, tes Kosakata Gambar Peabody, subtes dari Woodcock-Johnson, WISC-R, dan WRAT-R.

Pemeriksaan psikologi syaraf yang kedua, kira-kira setahun yang lalu, juga memerlukan pelaksanaan dari deretan fleksibel, saat ini oleh seorang ahli psikologi syaraf. Tes yang dilakukan adalah Jejak, Imitasi Kalimat, Rangkaian Kata dan Petunjuk Lisan (subtes dari Tes Detroit Kecerdasan Belajar), Tes Gambar Rumit Taylor, Tes Organisasi Penglihatan Hooper, Kapasitas Perhatian (subtes dari Tes Belajar Verbal Auditory), Tes Ingatan Symbol Penglihatan dan Suara, Tes Prestasi Individual, dan Tes Kecakapan Mendengar dan Kecakapan Membaca Wechsler.

Pemeriksaan psikologi syaraf ketiga, disponsori oleh terdakwa dan dilakukan oleh ahli psikologi syaraf Ralph Reitan, memerlukan pelaksanaan dari kebanyakan subtes dari Deretan Tes Psikologi syaraf Halstead-Reitan untuk anak-anak yang lebih tua.

Pada dua pemeriksaan sebelumnya, penemuan menunjuk pada beberapa tingkat trauma otak sebagai akibat kecelakaan, yang terjadi pada anak dengan beberapa tingkat perlemahan permanen. Sebaliknya, sebagai hasil dari pemeriksaan ketiga, Reitan menyimpulkan bahwa anak yang memiliki skor pada tingkat normal pada kebanyaka tes dalam deretan yang ditetapkan, Reitan mengijinkan, bagaimana untuk kemungkinan dari beberapa perlemahan ringan yang dikenai pada beberapa disfungsi otak minor, pendapat Reitan dibentuk berdasarkan prestasi tes anak sama dengan evaluasi dari catatan kasus. Dua ahli psikologi lainnya juga meninjau catatan anak dan data sejarah yang bisa menjadi kesimpulan.

Permintaan standar Daubert, pengadilan mengatur terdakwa, penemuan tanpa bukti mendukung kerusakan otak organik permanen . meskipun referensi tidak secara langsung dibuat pada nilai deretan fleksibel versus ditetapkan, pengadilan kelihatannya mendapatkan hasil pelaksanaan deretan yang ditetapkan lebih memaksa. Pengadilan menulis, “Fokus berada pada metodologi ahli, dan bukan kesimpulan yang mereka hasilkan.” Kemudian pada Chapple, kesaksian yang menyangkut pelaksanaan dari deretan yang ditetapkan diterima oleh pengadilan sebagai bukti medis, dimana kesaksian menyangkut pelaksanaan deretan fleksibel tidak diterima oleh pengadilan.

Implikasi Daubert dan Chapple

Pada wajahnya, implikasi Daubert kelihatannya samar-samar dan terbuka untuk mengandakan interprestasi (Black dkk., 1994, Faigman, 1995; Larvie, 1994). Bagaimanapun, mungkin menjadi satu pelajaran yang dipelajari dari Chapple, setidaknya dengan melihat pada kemampuan diterimanya bukti yang diperoleh sebagai hasil dari deretan psikologi syaraf yang fleksibel versus yang ditetapkan. Meskipun pelaksanaan dari deretan fleksibel secara umum diterima dalam komunitas profesional, pengadilan mungkin melihat lebih condong pada kesimpulan yang dicapai sebagai hasil dari deretan yang ditetapkan, distandarkan. Keputusan pengadilan Chapple juga memberi saran bahwa hal ini mungkin menerima sebagai bukti hasil dari tes yang distandarkan individu, sebagaimana hasil tes tersebut digunakan untuk tambahan penemuan dari deretan tes psikologi syaraf yang ditetapkan.

Deretan tes psikologi syaraf yang ditetapkan dirancang untuk sampel komprehensif fungsi psikologi syaraf pasien. Deretan yang ditetapkan adalah hal yang menarik bagi dokter klinik, khususnya dokter klinik yang relatif baru untuk penilaian psikologi syaraf, karena cenderung kurang memerlukan banyak cara. Dimana banyak keahlian dan ketrampilan diperlukan untuk menciptakan deretan fleksibel yang akan menjawab dengan cukup pertanyaan yang diinginkan, deretan pra-paket mewakili buatan yang bukan penyesuaian tapi alternatif komprehensif. Berbagai tes sampling berbagai bidang yang diperlukan dalam deretan, dan masing-masing diberikan dengan metode pemberian skor yang jelas. Satu penarikan utama dari tes pra-paket, bagaimanapun, adalah ketidakmampuan yang khusus dari pasien yang mungkin sangat mempengaruhi –dan sebaliknya- performa pada tes. Kemudian, individu dengan kelemahan melihat, contohnya, mungkin hasilnya buruk pada banyak subtes yang lain dari deretan yang memerlukan ketrampilan visual/melihat tertentu.

Mungkin paling banyak digunakan deretan tes psikologi syaraf yang ditetapkan adalah Deretan Psikologi Syaraf Halstead-Reitan. Ward C. Halstead (1908-1969) adalah ahli psikologi eksperimental yang memiliki kepentingan dalam studi korelasi otak-perilaku yang membuatnya memiliki laboratorium untuk eksperiment ini di dunia. Selama 35 tahun penelitian, Halstead menyelidiki lebih daripada 1.100 orang yang memiliki kerusakan otak. Dari pengamatannya, Halstead (1947a, 1947b diperoleh rangkaian dari 27 tes yang dirancang untuk menilai keberadaan atau tidak adanya kerusakan otak organik- Deretan Tes Psikologi syaraf Halstead. Seorang murid dari Halstead, Ralp M. Reitan, kemudian mengembangkan penemuan gurunya. Pada tahun 1955, Reitan mempublikasikan dua makalah yang berhubungan dengan efek-efek intelektual yang berbeda dari berbagai tempat luka otak (Reitan 1955a, 1955b).  …. juga dipublikasikan dengan memperhatikan pada populasi khusus. Faktor-faktor budaya juga harus dipertimbangkan saat melaksanakan deretan ini (Evans dkk., 2000).

Melakukan studi reliabilitas tes-tes ulang pada H-R adalah suatu pencegahan usaha keras dalam hal jumlah waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan satu pelaksanaan deretan, sama dengan faktor-faktor lainnya (seperti efek latihan dan efek ingatan). Tes secara umum dipandang sebagai suatu yang sah. Pertumbuhan badan literatur membuktikan validitas dari alat dalam membedakan subyek yang mengalami kerusakan otak dari subyek tanpa kerusakan otak, dan untuk membantu dalam membuat penilaian relatif pada kehebatan dari perlemahan dan kemungkinan tempatnya (Reitan, 1994, Reitan & Wolfson, 2000). Deretan juga digunakan untuk mengidentifikasi perlemahan psikologi syaraf yang dihubungkan dengan ketidakmapuan belajar (Batchelor dkk., 1990, 1991),  sama dengan kognitif, perpentual, motor, dan kemunduran perilaku dihubungkan dengan luka psikologi syaraf tertentu (Guilmette & Faust, 1991; Guilmette dkk., 1990; Heaton dkk., 2001).

Deretan psikologi syaraf yang ditetapkan lainnya adalah Deretan Psikologi Syaraf Luria-Nebraska (LNNB). Karya tulis ahli psikologi syaraf Rusia Aleksandr Luria memberikan inspirasi untuk kelompok tes yang distandarkan (Christensen, 1975) yang sesudah itu merevisi (Golden dkk., 1980, 1985) dan dikenal sebagia LNNB. Dalam berbagai bentuk yang dipublikasikan, LNNB berisi skala klinis yang dirancang untuk menilai proses kognitif dan fungsi. Analisa skor pada skal ini bisa menyebabkan penilaian pada apakah perlemahan psikologi syaraf ada, dan jika demikian, area otak yang terjadi. LNNB dilakukan kira-kira sepertiga dari waktu yang diambil untuk pelaksanaan deretan Halstead-Reitan. Tetap dinilai dengan menggunakan tes ini, Halstead-Reitan tetap menjadi deretan pilihan untuk penilai psikologi syaraf yang berpengalaman. Deretan tes psikologi syaraf bagi anak-anak juga diperoleh dalam bagian yang berdasarkan pada karya Luria, yaitu NEPSY (Korkman dkk., 1997), inspirasi yang dijelaskan oleh pengarang seniornya (Korkman, 1999).

Banyak deretan tes psikologi syaraf yang tidak dipublikasikan dan dipublikasikan dirancang untuk membuktikan lebih jauh kedalam satu bidang fungsi psikologi syaraf sebagai pengganti dari survey untuk kemungkinan kemrosotan perilaku di berbagai bidang. Deretan tes ada yang memfokuskan pada visual, sensor, ingatan, dan masalah komunikasi. Pengujian Komprehensif Sensor syaraf Pusat Aphasia (NCCEA) adalah deretan tes yang memfokuskan pada kemunduran komunikasi. Montreal Neurological Institute Battery secara khusus berguna untuk melatih ahli psikologi syaraf yang berada di jenis lukas khusus. Tes Terpadu Sensor California Selatan adalah deretan yang dirancang untuk menilai sensor-terpadu dan fungsi motor pada anak-anak umur 4 sampai 9 tahun.

Deretan psikologi syaraf disebut Deretan Perlemahan Hebat (SIB; Saxton dkk., 1990) dirancang untuk orang yang dinilai mengalami perlemahan hebat yang mungkin jika tidak melaksanakannya di atau dekat lantai dari tes yang ada. Deretan dibagi menjadi enam sub skala: Perhatian, Orientasi, Bahasa, Ingatan, Persepsi penglihatan, dan Susunan. Deretan yang dikhususkan lainnya adalah Inventaris Pengemudi Perilaku Kognitif, yang mana secara khusus dirancang untuk membantu dalam menentukan apakah individu dengan kerusakan otak mampu mengemudi sepeda motor (Lambert & Engum, 1992).
ALAT LAIN PENILAIAN PSIKOLOGI SYARAF

Mungkin kemajuan yang paling besar dalam bidang penilaian psikologi syaraf telah berbentuk teknologi tinggi dan hubungan keuntungan bersama yang telah berkembang antara ahli psikologi dan personel medis. Contohnya, kemajuan akhir-akhir ini dalam penelitian genetik telah mengarahkan pada bukti sugestif yang menyenangkan menyangkut asal mula autism. Mutasi dalam gen penting untuk perkembangan otak yang bisa memprediksi permulaan dari gangguan pengembangan perlemahan (O’Connor, 2001). Melebihi tingkat gen, lebih banyak mujizat “setiap hari” dalam diagnosa dan pengobatan dibawa kira-kira menggunakan teknologi gambar dan teknologi yang berhubungan dibahas dalam bab ini Psykometrik Sehari-hari.

Alat-alat penilaian psikologi syaraf, mirip seperti alat pengukuran lainnya yang digunakan oleh ahli psikologi, bisa membantu meningkatkan mutu hidup dari orang-orang yang dinilai dengan alat tersebut. Dalm bab berikut, kami akan melihat bagaimana alat-alat penilaian psikologi bisa dimodifikasi untuk mengakomodasi kebutuhan khusus dari orang-orang dengan kondisi cacat. Kami juga akan melihat pada banyak permasalahan menyangkut penilaian orang dengan kondisi cacat, termasuk permasalahan hukum. Bab 15 menyimpulkan dengan diskusi provokatif atas ketidakmampuan sebagai masalahan yang berbeda-beda.

119 Responses to “Neuropsychological Assessment”

  1. jondal says:

    g ngerti…apa itu maksudnya semua??

  2. kaitlin says:

    makes me want to drink alchoholic beverages

  3. emt training says:

    Wow this is a great resource.. I’m enjoying it.. good article

  4. Daniel says:

    great post, thanks for sharing

  5. Great information! I’ve been looking for something like this for a while now. Thanks!

  6. Keep posting stuff like this i really like it

  7. tab mcaally says:

    Audio began playing when I opened up this webpage, so annoying

  8. Lilian says:

    I’m not easily imperssed. . . but that’s impressing me! :)

  9. Snow says:

    Superior tinkhnig demonstrated above. Thanks!

  10. enaleDrighlig says:

    OMG, it is still accepting donations! Fantastic example of a creative fundraising effort that raised $10,000 in 48 hours to build a classroom at the school in Tanzania.

  11. l7d7dn I almost accidentally visited to this site, but stayed here for a long time. Stayed because everything was very interesting. Surely will share with all my friends!…

  12. sweetblog.Thanks for showing us.

  13. ngA4jI Edidn`t think about that. I’ll tell my mother, she won`t believe it..!!

  14. Bart Carrick says:

    Hello dude! Nice blog! I really liked being here.

  15. Levitra says:

    Aloha! I’ve just stopped by to say thanks for this nice article. Take care!

Your Reply